Connect with us
isidisini

Tanah Papua

Protes Pengangkatan Kepala Suku untuk Pangdam Karena Tidak Mengerti Sejarah

Published

on

JAYAPURA, HaIPapua.com – Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit dinobatkan sebagai kepala suku besar pegunungan tengah Papua, di Kabupaten Jayawijaya, pekan lalu.

Prosesi penobatan kepala suku besar ini dihadiri kurang lebih 40 kepala suku di wilayah pegunungan tengah Papua yang dipimpin Alex Doga, tokoh Pepera Silo Karno Doga. Selain itu hadir pula sejumlah perwakilan kepala suku dari wilayah pesisir pada acara tersebut.

Penobatan kepala suku besar tersebut, belakangan menuai protes dari sejumlah warga yang mengatasnamakan tokoh adat dan anggota DPR Papua. Dari sejumlah komentar yang beredar melalui pemberitaan ataupun komentar di media sosial menuding kepala suku telah menjual adat Papua dan sejumlah cara untuk menolak penobatan tersebut.

(Baca Juga: Pangdam Cenderawasih Dinobatkan Sebagai Kepala Suku Besar Pegunungan Tengah Papua)

Menanggapi berbagai protes tersebut, Alex Doga hanya bereaksi santai dan tidak mau ambil pusing. Menurutnya, orang-orang yang berkomentar itu bukan kepala suku jadi tidak paham dengan adat kebiasaan suku-suku di pegunungan tengah Papua dan mereka juga tidak mengerti sejarah.

“Gelar kepala suku besar untuk Pangdam Cenderawasih adalah simbol persaudaraan dan kasih antara anak-anak adat pegunungan tengah dengan TNI. Bukan hanya Pangdam yang kami beri gelar kepala suku besar, tapi Presiden Sukarno juga diangkat kepala suku oleh orang tua kami dahulu,” kata Alex Doga di Wamena, Kabupaten Jayawijaya melalui telepon selulernya, Minggu (30/9/2018).

Alex Doga mengisahkan pengalaman orang tuanya Silo Doga bersama sejumlah kepala suku yang menjadi tokoh Pepera diundang oleh Presiden Sukarno ke Istana Negara. Pada saat itu, mereka melaksanakan sumpah setia sebagai saudara dan mengangkat Presiden Sukarno sebagai kepala suku besar pegunungan tengah Papua.

“Itu sebabnya, nama Silo Doga ditambah dengan nama Sukarno menjadi Silo Karno Doga sebagai simbol persaudaraan, kasih, dan kesetiaan,” ujar Alex Doga.

Jadi, kata Alex Doga, pemberian gelar kepala suku kepada Pangdam tidak berarti akan mengambil atau menghilangkan adat Papua. Justru adat Papua akan semakin besar sampai ke Jakarta, Sulawesi, atau kemanapun nanti Pangdam akan bertugas.

“Seperti Tuhan Yesus memberi mandat kepada murid-muridnya untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Injil diturunkan di Israel, tidak berarti dengan pengabaran itu maka Injil hilang dari Israel. Justru dengan begitu, kita orang Papua yang beda warna kulit dengan orang Israel bisa pegang Injil,” kata Alex Doga.

Menurut Alex Doga, meski beda warna kulit dengan Pangdam Cenderawasih tapi hati dan jiwa kami satu. Kami sama-sama ingin membangun negara dan membantu menyejahterakan masyarakat Papua.

Ini justru berbeda dari sekelompok orang asli Papua yang justru selalu membuat kegaduhan dan ingin terjadi kekacauan di Papua.

“Kami ini anak-anak adat Papua, tidak boleh durhaka pada leluhur yang sudah berjuang untuk NKRI dan mengikrarkan tali persaudaraan. Dulu di wilayah pegunungan tengah Papua tidak pemberontak, tidak ada angkat senjata. Saat ini ada karena pengaruh-pengaruh dari luar,” papar Alex Doga.

“Kita orang Papua yang mengaku pengikut Tuhan Yesus yang mengajarkan cinta kasih dan damai justru tidak mau menerima orang yang berbeda warga kulit dengan kalian. Ini yang menjadi masalah,” kata Alex Doga menambahkan.

Penyerahan Lahan untuk Kodam Cenderawasih

Mengenai hibah lahan seluas 90 hektare kepada Kodam Cenderawasih, kata Alex Doga, tidak perlu dipermasalahkan karena yang mereka serahkan adalah tanah ulayat mereka. Penyerahan lahan itu untuk kepentingan negara, membangun fasilitas TNI yang nantinya akan membantu menjaga keamanan di daerah tersebut.

“Warga di Distrik Silo Karno Doga ingin aman, ada pembangunan dan anggota TNI sudah terbukti banyak membantu masyarakat dengan membangun fasilitas umum seperti jalan, sekolah, gereja, serta membantu masyarakat bertani atau mengajar siswa di sekolah karena tidak ada guru,” kata Alex Doga.

(Baca Juga: Pendeta Lipius Biniluk: Kehadiran TNI Mulai Diterima Masyarakat Papua)

“Yang ribut-ribut masalah tanah itu justru makan dari uang negara tapi tidak pernah membantu masyarakat. Mereka hanya bisa bikin ribut saja,” kata Alex Doga menambahkan.

Ajak Anggota OPM Turun Gunung Membangun Papua

Hal senada diungkapkan Habo Kalogo, salah seorang kepala suku yang mendampingi Alex Doga. Habo Kalogo yang pernah menghibahkan tanahnya kepada negara, oleh anggota Kodim kemudian mendirikan bangunan sekolah.

“Gedung sekolah sudah jadi dan anak-anak sekolah banyak, lebih dari 200 anak. Tapi gurunya sedikit, kadang hanya satu. Hanya adik-adik dari Koramil dan pembina desa yang sering bantu mengajar di sekolah. Mereka bukan hanya membantu mengajar tapi membagi buku gratis untuk anak-anak sekolah,” papar Habo.

Habo mengaku mendukung keputusan Alex Doga untuk menghibahkan tanahnya untuk TNI. “Anggota Kodim juga membantu membangun kantor desa dan gereja. Mereka tidak dibayar, bawa bahan makanan sendiri, dan tinggal dengan masyarakat di honai. Sebagian makanan mereka dibagi untuk masyarakat,” kata Habo.

Habo lalu mengisahkan pengalamannya pernah bergabung dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan sempat ikut lari ke Papua Nugini (PNG). Karena tak punya harapan bersama OPM, ia lalu memutuskan untuk kembali ke Papua.

“Apa yang saya dapat bergabung dengan OPM, omong kosong semua. Saya lebih baik di kampung, punya tanah ulayat luas yang bisa digarap. Saya pulang bertani, dan sekarang saya punya kebun luas, ada jeruk, nanas, hipere, macam-macam,” kata Habo.

Dari pengalamannya, ia mengajak saudara-saudaranya yang masih berada di hutan untuk turun gunung, meletakkan senjata, dan hidup tenang dengan bertani.

“Lebih baik ganti senjata itu dengan sekop dan linggis, itu membawa kehidupan. Senjata itu hanya membawa kematian. Orang lain mati, kamu juga mati karena senjata itu. Tuhan sudah menganugerahkan tanah subur untuk diolah,” ujarnya.

(Baca Juga: Cantiasa: Jurnalis Hendaknya Memberikan Wacana Edukatif Bagi Masyarakat Papua)

Iapun menitipkan harapannya agar pemerintah membantu membangun perumahan untuk guru-guru agar mau mengajar di kampung mereka.

“Nanti saya siapkan lahan supaya guru datang ajar anak-anak, biar mereka tidak bodoh. Percayakan saja pembangunannya ke adik-adik Kodim, karena mereka kerja tidak dibayar,” pungkas Habo. (Ong)

Berita terbaru

Puluhan karton minuman yang disita anggota Polres Mimika pada Jumat (29/03/2020) Puluhan karton minuman yang disita anggota Polres Mimika pada Jumat (29/03/2020)
Tanah Papua1 hari ago

Polisi Sita Minuman Beralkohol Yang Dijual di Luar Jam Yang Ditentukan

TIMIKA, HaiPapua.com – Jajaran Polres Mimika menyita puluhan karton minuman keras beralkohol dari penjual yang masih berjualan di luar waktu...

Tanah Papua4 hari ago

Kepala Kampung Nawaripi Inisiatif Sediakan Tempat Cuci Tangan

TIMIKA, HaiPapua.com – Dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19, Norman Ditubun, Kepala Kampung Nawaripi, Distrik Wania menginisiasi...

Tanah Papua5 hari ago

Cegah Penyebaran Covid-19, Pemda Papua Akan Tutup Bandar Udara, Pelabuhan, dan PLBN

JAYAPURA, HaIPapua.com – Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Papua akan menutup penerbangan, pelayaran kapal penumpang, dan perlintasan batas negara di pintu...

Nasional6 hari ago

Kasus Covid-19 Bertambah 107 Kasus, Tambahan 1 Kasus dari Papua

JAKARTA, HaIPapua.com – Jumlah warga yang terpapar virus corona atau Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Tanah Air bertambah 107 kasus....

Tanah Papua6 hari ago

PT Freeport Mulai Batasi Perjalanan ke Area Tambang di Dataran Tinggi

TIMIKA, Haipapua.com – PT Freeport Indonesia mulai membatasi perjalanan ke area proyek PTFI dan dataran tinggi. Pembatasan tersebut mulai diberlakukan...

Tanah Papua1 minggu ago

DPC PSI Bagikan 1.500 Masker Gratis Kepada Warga Timika

TIMIKA, HaiPapua.com – Dewan Pimpinan Cabang Partai Solidaritas Indonesia (DPC PSI) Kabupaten Mimika membagikan sebanyak 1.500 masker gratis kepada warga...

Tanah Papua1 minggu ago

Wartawan Timika Polisikan Oknum STIE Jambatan Bulan

TIMIKA, HaiPapua.com – Gabungan wartawan Timika, Kabupaten Mimika, Papua akhirnya memolisikan oknum STIE Jambatan Bulan ke Polres Mimika pada Jumat...

Tanah Papua2 minggu ago

KPID Imbau Lembaga Penyiaran di Papua Dukung Pemda Cegah Persebaran Covid-19

JAYAPURA, HaIPapua.com – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Papua mengimbau lembaga penyiaran, televisi maupun radio untuk menyosialisasikan secara baik...

Nasional2 minggu ago

Virus Corona dan Penularannya

JAKARTA, HaIPapua.com – Pemerintah telah menetapkan status keadaan tertentu darurat bencana menyusul penyebaran wabah penyakit akibat virus corona atau yang...

Nasional2 minggu ago

Kepala BNPB Imbau Pemda Segera Bentuk Gugus Tugas Penanganan Covid-19

JAKARTA, HaIPapua.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengimbau kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk segera membentuk gugus...

Tanah Papua

Facebook

Trending

Copyright © 2019 HaIPapua Theme.