Connect with us

Tanah Papua

Berita Ekslusif The Saturday Paper Ingin Menutupi Kebiadaban OPM di Nduga

Published

on

JAYAPURA, HaIPapua.com – Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi membantah pemberitaan media Australia The Saturday Paper yang menuding Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah menggunakan bom fosfor di Kabupaten Nduga.

Berita berjudul “Exclusive: Chemical Weapons dropped on Papua” yang terbit pada 22 Desember, menuduh aparat TNI yang dikirim ke Distrik Yigi, bukan untuk mengevakuasi warga sipil korban pembantaian kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) yang bernama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) Organisasi Papua Merdeka (OPM), tapi datang membunuhi warga dengan bom.

“Berita yang tidak jelas narasumbernya itu hanya mengutip propaganda kelompok Papua Merdeka yang coba menutupi pembantaian warga sipil yang dilakukan oleh orang-orang yang mereka sebut pejuang kemerdekaan,” kata Aidi di Jayapura, Senin (24/12/2018).

(Baca Juga: Kesaksian Korban Selamat dari Pembantaian Biadab KKSB di Nduga)

Aidi menjelaskan bahwa TNI tidak pernah memiliki senjata kimia seperti bom fosfor ini, karena dilarang oleh dunia internasional dan sifatnya sebagai pembunuh massal. Bom fosfor yang diklaim media Australia, pernah dipakai tentara Amerika Serikat di Vietnam yang bertujuan untuk menghancurkan daerah musuh.

“TNI tidak memiliki senjata seperti itu, tidak akan pernah memiliki karena sifatnya sebagai penghancur massal. Pemerintah Indonesia yang saat ini sedang membangun tentu dengan keterbatasan dana akan lebih memilih mengembangkan alutsista yang lebih bermanfaat,” ujar anggota salah satu satuan elite di jajaran TNI-AD ini.

Menurutnya, saat diperintahkan Panglima TNI membantu Polri untuk mencari dan mengevakuasi pekerja PT Istaka Karya yang dibantai KKSB, Kodam XVII Cenderawasih mengirim bantuan pasukan dan memperbantukan 4 helikopter angkut TNI-AD.

Personel gabungan TNI-Polri yang berjumlah 150 orang yang menggunakan 25 mobil pick up 4×4 yang dipimpin Danyonif 756/WMS Mayor Inf Arif Budi Situmeang dan Kasat Brimob Polda Papua Kombes Pol Jermias Rontini hanya dilengkapi senjata standar infanteri dan Brimob.

“Jadi kalau diberitakan bahwa pasukan TNI melakukan serangan udara menggunakan bom, jelas tidak benar, karena helikopter yang dilibatkan hanya helikopter angkut jenis MI-17, Bolco, dan Bell,” kata Aidi.

Serangan bom yang dituduhkan itu, kata Aidi, jelas tidak masuk akal karena bisa melukai pasukan sendiri dan warga sipil yang ada di darat.

“Kalau menggunakan bom apalagi jenis fosfor ini, maka dampaknya pasti akan luar biasa, selain membunuh warga sipil juga bisa membunuh pasukan sendiri yang ada di situ. Jika benar ada penggunaan bom fosfor maka korban akan banyak dan akan ada bekas kebakaran luas yang ditimbulkan,” kata Aidi menjelaskan.

(Baca Juga: Evakuasi Anggota Yonif 755 Yalet Diwarnai Kontak Tembak dengan KKSB)

Mengenai sejumlah nama yang menjadi narasumber dalam pemberitaan itu, patut dipertanyakan apakah betul melihat langsung atau berada di lokasi tersebut. Pasalnya daerah Yigi dan sekitarnya blank spot sehingga informasi awal kejadian pun sempat simpang siur karena bergantung pada alat komunikasi SSB.

“Jadi kami berharap media pun harus jeli mengutip narasumber, karena bisa saja mereka hanya mengaku-mengaku dengan melampirkan foto-foto dari kejadian lain yang tujuannya untuk memojokkan aparat TNI-Polri yang sedang mengejar KKSB yang telah membantai warga sipil di Distrik Yigi,” ucap Aidi.

Aidi mengakui ada 3 warga sipil yang ditemukan tewas pasca beberapa kontak tembak yang terjadi pasca pembantaian warga sipil oleh KKSB dan penyerangan Pos TNI Yonif 755 di Distrik Mbua yang dilakukan KKSB, pada 3 Desember. Saat ini aparat TNI-Polri masih menyelidiki penyebab kematian ketiga warga itu.

“Dari keterangan warga asli yang ikut menyelamatkan diri ke Pos TNI di Mbua, pasca pembantaian itu, anggota KKSB juga menyisir ke rumah-rumah warga setempat. Menurut Danpos TNI di Mbua, saat KKSB menyerang pos TNI, mereka (KKSB) menggunakan warga sipil sebagai tameng dan ikut melempar batu ke arah pos. Dalam kejadian ini Wadanpos Serda Handoko gugur tertembak dan Pratu Sugeng tertembak di pundak kanan,” papar Aidi.

Heli jenis MI-17 milik TNI yang dipakai sebagai pesawat angkut untuk korban yang dievakuasi di Nduga. (ist)

Aparat TNI-Polri Selidiki Penyebab Kematian 3 Warga Sipil

Sebelumnya, Rabu (19/12/2018) lalu, Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal menjelaskan hasil penyelidikan sementara dari Tim Polres Jayawijaya bersama Kodim 1702 Jayawijaya di Distrik Mbua dan Distrik Yal, Kabupaten Nduga.

Dari hasil penyelidikan itu, diketahui ada 3 warga sipil yang meninggal pasca insiden pembantaian KKSB terhadap pekerja PT Istaka Karya di lereng bukit Puncak Kabo, pada 2 Desember lalu.

“Tiga orang warga yang dilaporkan meninggal yakni Mianus Lokbere (18) warga Kampung Otalama, Distrik Mbua, Nison Imangge (18) warga Kampung Otalama Distrik Mbua, dan Nementius Wimiangge (28) warga Distrik Mbulmu Yalma,” kata Kamal dalam keterangan tertulisnya.

(Baca Juga: Pos TNI di Mbua Diserang KKSB, Satu Prajurit TNI Gugur)

Kamal menjelaskan, jenazah Mianus (18) ditemukan 500 meter dari Pos TNI Yonif 755/Yalet di Distrik Mbua. Ia kemungkinan berada di situ saat KKSB menyerang Pos TNI di Mbua pada 3 Desember lalu. Jenazahnya sudah dimakamkan oleh pihak keluarga di samping rumahnya pada 13 Desember lalu.

“Belum diketahui apakah ia ikut bersama kelompok Egianus Kogoya, atau dipaksa datang ke sana karena dari keterangan anggota Pos TNI, saat penyerangan itu KKSB menggunakan warga sipil sebagai tameng,” ujar Kamal.

Sementara itu, jenazah Nison Imangge (18) masih dalam penyelidikan penyidik berkoordinasi dengan dengan keluarga. Aparat rencananya akan menawarkan autopsi kepada jenazah yang sudah dimakamkan di samping rumah melalui pendekatan dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

Sementara untuk jenazah Nementius Wimangge (28), kata Kamal, sudah dibakar sesuai adat kebiasaan perang suku pegunungan tengah Papua. Ia kemungkinan adalah salah satu anggota KKSB yang tewas tertembak saat kontak tembak dengan aparat TNI-Polri.

“Dalam kontak tembak pada 5 Desember lalu, satu anggota Brimob Bharatu Hidayat tertembak di lengan setelah sebelumnya KKSB menembaki helikopter TNI yang hendak mengevakuasi Pratu Sugeng dan jenazah Serda Handoko dari Distrik Mbua,” papar Kamal.

Heli Bell TNI yang dipakai sebagai heli angkut di Kabupaten Nduga. (ist)

Belum Ada Bukti Penggunaan Bom

Dalam penyelidikan itu, kata Kamal, aparat TNI-Polri juga menyelidiki informasi yang beredar di media sosial terkait isu serangan udara dan penggunaan bom.

“Warga yang ada di Distrik Mbua dan Distrik Yal mengaku tidak pernah mendengar bunyi letusan bom. Mereka mengaku hanya melihat beberapa helikopter milik TNI mengudara di wilayah kedua distrik itu,” katanya.

(Baca Juga: Kapolda Papua: Perintah Kapolri untuk Kejar dan Tangkap Anggota KKSB)

Penyidik, kata Kamal, sejauh ini belum menemukan selongsong granat asap dan gas air mata seperti yang beredar di media sosial.

“Hingga saat ini kondisi di kedua distrik ini sudah kondusif. Aparat mengimbau kepada warga untuk memanggil saudara dan kerabat mereka yang bersembunyi di hutan. Selain itu, aparat juga masih mencari 4 pekerja PT Istaka Karya yang hingga kini belum ditemukan,” kata Kamal.

Kementerian Luar Negeri Protes Berita The Saturday Paper

Berita The Saturday Paper berjudul Exclusive: Chemical Weapons dropped on Papua juga mendapat respon dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) melalui akun twitter resmi MoFA Indonesia @Kemlu_RI.

Dalam 8 poin pernyataan @Kemlu_RI yang ditulis pada Sabtu (22/12/2018) pukul 20.27 WIB, Kemlu menyampaikan penyesalan dengan pemberitaan media Australia tersebut yang menuduh aparat Indonesia menggunakan senjata kimia dalam mengejar KKSB di Nduga.

Kemlu menilai pemberitaan media tersebut tidak berdasar, tidak faktual, dan cenderung menyesatkan karena Indonesia tidak memiliki senjata kimia. Sebagai anggota Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) atau Organisasi Anti Senjata Kimia yang patuh, Indonesia tidak memiliki bahan kimia apapun sebagai yang tercantum dalam lampiran 1 Konvensi Senjata Kimia.

Indonesia hanya mengimpor, menggunakan, dan menyimpan bahan kimia yang tercantum dalam daftar 2 dan 3 untuk tujuan damai dalam mendukung industri nasional. Inipun sudah terkonfirmasi sedikitnya 19 kali inspeksi dari OPCW sejak 2004.

Terkait penggunaan helikopter di Nduga hanya melibatkan helikopter angkut yang membantu evakuasi dan bukan bertujuan untuk melakukan penyerangan udara seperti yang dituduhkan oleh The Saturday Paper dalam beritanya.

(Baca Juga: Kodam Cenderawasih Kecam Tindakan Brutal KKSB di Kabupaten Nduga)

Kemlu menilai laporan The Saturday Paper mencoba mengaburkan kejadian sebenarnya yang terjadi di Kabupaten Nduga, yakni pembantaian 25 warga sipil oleh KKSB pada 2 Desember lalu, yang menewaskan 17 orang dan 4 orang lainnya belum ditemukan.

Warga sipil itu adalah para pekerja konstruksi yang membangun jembatan di ruas jalan Trans Papua yang merupakan upaya nasional untuk meningkatkan kesejahteraan orang Papua sebagai warga negara Indonesia. Untuk itu, Pemerintah Indonesia akan mengambil tindakan yang perlu terkait pemberitaan tersebut. (Mas)

Berita terbaru

Tanah Papua21 jam ago

Pangdam Cenderawasih Besuk 4 Warga Asal Kampung Olenki di RSUD Mimika

TIMIKA, HaIPapua.com – Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab membesuk 4 korban luka tembak yang tengah dirawat di...

Tanah Papua2 hari ago

Kodam Cenderawasih Akan Investigasi Tertembaknya 7 Warga di Kabupaten Puncak

JAYAPURA, HaIPapua.com – Kodam XVII Cenderawasih menyampaikan duka cita menyusul jatuhnya korban jiwa dari warga sipil dalam insiden kontak tembak...

Tanah Papua2 hari ago

Kontak Tembak di Kabupaten Puncak, 3 Warga Sipil Tewas

TIMIKA, HaIPapua.com – Empat warga korban kontak tembak di Kabupaten Puncak, dievakuasi ke RSUD Mimika, Kabupaten Mimika, Rabu (18/9/2019) siang....

Tanah Papua2 hari ago

Pesawat Twin Otter Rimbun Air PK-CDC Hilang Kontak di Kabupaten Puncak

TIMIKA, HaIPapua.com – Pesawat Rimbun Air PK-CDC jenis Twin Otter DHC-6 hilang kontak dalam penerbangan dari Timika, Kabupaten Mimika ke...

Nasional1 minggu ago

Presiden Jokowi Kaji Usulan Pemekaran Wilayah di Papua

JAKARTA, HaIPapua.com – Presiden Joko Widodo berjanji akan menindaklanjuti aspirasi pemekaran wilayah di Provinsi Papua. Hal tersebut disampaikan Presiden saat...

Nasional1 minggu ago

Presiden Akan Tempatkan 1.000 Sarjana Muda Papua di BUMN

JAKARTA, HaIPapua.com – Presiden Joko Widodo bertemu dengan 61 tokoh Papua di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/9/2019). Dalam pertemuan itu,...

Tanah Papua2 minggu ago

Ratusan Mahasiswa Tinggalkan Kota Studi, Gubernur Papua Kelabakan

JAYAPURA, HaIPapua.com – Mulutmu harimaumu. Slogan ini mungkin menggambarkan respons emosional Gubernur Papua Lukas Enembe menanggapi insiden di Asrama Mahasiswa...

Tanah Papua2 minggu ago

Polisi Amankan 20 Simpatisan ULMWP yang Diduga Terlibat Kerusuhan Jayapura

JAYAPURA, HaIPapua.com – Kepolisian terus memburu pelaku perusakan dan pembakaran dalam unjuk rasa anti-rasis yang berujung kerusuhan di Jayapura, Kamis...

Tanah Papua2 minggu ago

Polisi Temukan Empat Jasad Pendulang dalam Kondisi Hangus

JAYAPURA, HaIPapua.com – Kepolisian Resor Asmat menemukan 4 jasad dalam kondisi hangus saat melakukan penyisiran di lokasi tambang emas ilegal...

Tanah Papua2 minggu ago

3 Pendulang Luka Bacok Diserang OTK di Distrik Seradala, Yahukimo

TANAH MERAH, HaIPapua.com – Tiga pendulang emas tradisional dari Distrik (kecamatan) Seradala, Kabupaten Yahukimo dievakuasi ke RSUD Boven Digoel, Kabupaten...

Tanah Papua

Facebook

Trending

Copyright © 2019 HaIPapua Theme.